Beranda | Artikel
Tafsir Surah An-Naziat (Bag. 4): Kokohnya Langit dan Bumi Sebagai Tanda Adanya Kiamat
8 jam lalu

Pada perenungan ayat-ayat dalam surah An-Naziat sebelumnya, Allah menceritakan kisah Nabi Musa dan Fir’aun serta bagaimana hasil akhir dari perbuatan buruk Fir’aun. Hal ini sebagai hiburan bagi baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa nantipun kaumnya yang memusuhi Nabi dan tidak bertobat, mereka akan mendapatkan kesudahan yang sama seperti Fir’aun.

Kemudian pada ayat setelahnya, Allah kembali memberikan peringatan bagi kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi, bahwa Allah mampu mendatangkan kiamat, dengan bukti-bukti Allah mampu menciptakan berbagai hal luar biasa di alam semesta ini.

Hamka menyebutkan sebuah munasabah (keterkaitan antara ayat) menarik antara ayat ini dan sebelumnya, “Disebutkan tentang cerita Nabi Musa menghadapi Fir’aun serta bagaimana akhir hayat Fir’aun yang tenggelam di lautan Qulzum. Lalu di penutup dikatakan bahwa kejadian itu adalah suatu ibarat untuk perbandingan bagi manusia. Seberapa tinggipun pangkat, kekayaan, luasnya kekuasaan, dan kerajaan, manusia tetaplah manusia yang tidak ada artinya dibanding kebesaran alam ini. Manusia hidup singkat, di bawah 100 tahun lalu mati, adapun alam semesta tetap dalam kebesarannya, dan hanya Allah yang menciptakan itu semua.” (Tafsir Hamka, hal. 7879)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ بَنٰىهَاۗ

“Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 27)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kalimat tanya, bukan untuk bertanya, namun untuk taqri’ (mencela) dan taubikh (mengecam) kaum musyrikin. Dengan nada mengancam, dapat kita rasakan betapa mengerikannya ayat ini, “Wahai sekalian Quraisy, apakah kalian lebih sulit untuk Allah ciptakan dibandingkan dengan langit yang begitu luas dan agung ini?”

Langit yang begitu luas ini mudah Allah ciptakan, apalagi sekedar menciptakan kalian kembali setelah mematikan kalian, hal itu tentu jauh lebih mudah, maka mengapa kalian masih mengingkari hari kiamat?

Perlu diingatkan kembali, jika kita menggunakan logika perbandingan dasar manusia, melihat langit yang sangat luas dengan berbagai isinya, dibandingkan dengan manusia yang sangat kecil dan lemah, tentu akan kita katakan bahwa menciptakan langit tentu lebih “sulit”. Tentu ini hanya perbandingan dasar karena Allah menggunakan “‘adatul basyariyah” atau pernyataan yang biasa dipakai dan dapat dimengerti manusia, untuk mendekatkan pemahaman. Namun di samping itu semua, secara hakikat, segala penciptaan makhluk adalah mudah bagi Allah, tanpa ada kesulitan apapun.

Lafadz “banaha” dalam ayat dibaca dengan saktah, yaitu dibaca terpisah dengan cara berhenti dulu sejenak tanpa mengambil nafas. Karena potongan ayat ini dimaknai isti’naf, yaitu kalimat baru yang dimulai dari awal, tujuannya untuk menjelaskan agungnya bangunan langit yang Allah ciptakan dengan kekuatannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ

“Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 28)

Allah mengangkat langit serta benda-benda yang berada di sana, meninggikan atap langit bagi kita, serta menjadikannya sempurna dari semua sisi tanpa ada kekurangan dari sisi manapun.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa “Allah tinggikan bangunan langit, meluaskan penjurunya, menyamakan antar penjuru-penjurunya, serta memberi hiasan dengan gugusan bintang-bintang di malam hari yang gelap.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ

“Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 29)

Allah menjadikan malam hari gelap gulita dan siang hari terang benderang.

Hamka menjelaskan bahwa bumi berputar dengan putaran yang tetap mengelilingi matahari dalam garis edar yang stabil. Oleh karena itu, muncul siang dan juga malam dengan keteraturan yang indah selama jutaan tahun.

Dengan keteraturan ini pula, kita menjadi mudah untuk melakukan ibadah salat. Waktu berjalan perlahan dengan teratur mulai dari terbit fajar untuk melakukan salat Subuh, lalu naik perlahan untuk salat Dhuha, kemudian sampai tengah langit sehingga kita bisa melakukan salat Zuhur, dan seterusnya. Allah buat stabil dan perlahan agar kita bisa beribadah. Tidak terbayang betapa sulitnya ibadah jika perjalanan waktu sangatlah cepat dan tidak teratur bagi manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ

“Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 30)

Setelah menciptakan langit, Allah menciptakan bumi serta membuatnya terhampar agar manusia dapat hidup dan memiliki penghidupan yang mudah di atasnya.

Meskipun disebutkan hamparan, namun ini tidak menafikan hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang memperlihatkan bumi berbentuk bola atau bulat. Oleh karena itu, disebutkan dalam Tafsir Al-Kabir bahwa pada awalnya, bumi adalah suatu bola yang terkungkung, kemudian Allah lebarkan dan hamparkan bumi tersebut. Serta makna dari “Dahahaa” atau “hamparkan” bukanlah semata-mata terhampar (seperti karpet datar yang homogen), akan tetapi suatu hamparan (tidak homogen) yang mampu untuk menumbuhkan berbagai tumbuhan dan pepohonan, di sana terdapat bukit dan lembah, lautan dan daratan, serta selainnya.

Pendapat lain mengatakan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi dibuat kosong pada awalnya. Kemudian setelah langit tercipta, baru Allah keluarkan air dan kehidupan di muka bumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ

“Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 31)

Allah keluarkan mata air yang segar dari dalam bumi, kemudian menjadikannya sungai yang mengalir, setelah itu menumbuhkan dengan aliran sungai tersebut sebagai tumbuhan dan padang gembalaan untuk pakan hewan-hewan ternak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ

“Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 32)

Gunung-gunung menjulang di atas permukaan bumi, dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergetar hebat dan membuat bumi nyaman ditinggali oleh manusia dan hewan-hewan.

Selain itu, gunung juga menjadi pagar alami yang berfungsi sebagai pemecah angin, menjaga manusia dari angin yang terlalu besar yang dapat menerbangkan mereka dan tempat tinggalnya.

Penyebutan gunung-gunung setelah penyebutan tentang air menjelaskan kepada kita bahwa ada hubungan erat antara keduanya. Ketika air dari lautan menguap karena panas, kemudian berkumpul menjadi awan hitam lalu hujan, pepohonan yang berada di pegunungan menahan air agar tidak langsung tumpah ruah seperti banjir bandang yang dapat menghancurkan manusia. Akan tetapi, Allah buat air menyerap perlahan ke muka bumi, terserap oleh akar-akar pohon raksasa dan lapisan tanah yang banyak jumlahnya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan pada sungai-sungai yang mengalir teratur dari pegunungan menuju lautan. Semua hal ini adalah untuk kemasalahatan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 33)

Allah lakukan semua yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya untuk manfaat dan masalat manusia serta hewan-hewan.

Renungilah, semua yang keluar dari muka bumi adalah untuk manfaat manusia dan hewan ternak mereka. Mulai dari pepohonan, biji-bijian yang menjadi makanan pokok, buah-buahan sebagai pelengkap, katun dan wol sebagai pakaian yang menjaga tubuh, hingga garam yang berasal dari air laut, serta api yang bahan bakarnya adalah pepohonan, baik yang hidup atau yang sudah lama mati.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/


Artikel asli: https://muslim.or.id/113975-tafsir-surah-an-naziat-bag-4.html